Sejarah Tisu, Manfaat Tisu dan Bahaya yang Harus Dihindari
Sejarah Tisu, Manfaat Tisu dan Bahaya yang Harus Dihindari. Tisu, yang digunakan untuk membersihkan tangan, wajah, dan area lainnya, adalah benda yang selalu ada di rumah dan dibawa ke mana pun. Baik di rumah, restoran, hotel, atau warung-warung kecil, makanan sudah menjadi kebutuhan manusia.
Kita sering menggunakan tisu setiap hari. Apakah Anda tahu bagaimana tisu pertama kali dibuat? Tisu toilet sudah digunakan di Tiongkok sejak abad ke-14 pada 1800-an. Pada saat itu, tisu belum digulung seperti sekarang, dan ukurannya hanya sekitar 5×8 cm.
Sejarah Tisu, Manfaat Tisu dan Bahaya yang Harus Dihindari
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Agensi Perlindungan Lingkungan (EPA), kertas pertama kali ditemukan oleh Cai Lun pada tahun 105 SM di masa Dinasti Han. Awalnya digunakan untuk menulis dan mencetak. Namun, pada Dinasti Tang (618–907 SM), kertas mulai digunakan sebagai pengganti kain atau bahan lain untuk keperluan kebersihan pribadi, seperti mencuci tangan setelah menggunakan toilet.
Asal-Usul Tisu
Penggunaan kertas untuk keperluan kebersihan meningkat selama Dinasti Song (960–1279 M). Bahkan, menurut catatan seorang pengelana Arab bernama Ibn Battuta yang mengunjungi Tiongkok pada abad ke-14, orang Tiongkok menggunakan kertas khusus untuk toilet, yang dianggap berbeda dari kebiasaan orang lain pada masa itu.
Penggunaan ini menunjukkan betapa kreatifnya orang Tiongkok kuno dalam menggunakan kertas untuk kebutuhan sehari-hari, seperti menjaga kebersihan. Konsepnya membentuk evolusi tisu yang kita gunakan saat ini, meskipun kualitasnya jauh lebih sederhana dibandingkan dengan tisu modern.
Sementara itu, sejarah mencatat bahwa perusahaan Kimberly-Clark Corporation pada tahun 1924 menciptakan tissue paper modern. Kleenex awalnya dibuat sebagai kain pembersih kosmetik untuk menggantikan kain lap, tetapi sekarang menjadi tisu sekali pakai untuk mengelap tangan, wajah, dan hidung.
Namun, penggunaan tisu modern dapat berbahaya atau berdampak negatif pada kesehatan karena beberapa tisu mengandung bahan kimia seperti pemutih (bleach) berbasis klorin, pewangi, atau pelembut yang dapat menyebabkan iritasi kulit, alergi, atau masalah pernapasan pada orang yang sensitif. Penggunaan tisu basah yang tidak steril juga dapat meningkatkan risiko infeksi jika digunakan pada luka terbuka atau area sensitif, dan plastik mikro di dalamnya dapat menyebabkan infeksi.
Produksi tisu membutuhkan pulp kayu, yang seringkali berasal dari penebangan hutan, yang berkontribusi pada deforestasi, hilangnya habitat, dan pemanasan global. Tinja basah sering mengandung bahan sintetis yang tidak mudah terurai secara alami dan akan mencemari tanah dan air jika dibuang sembarangan.
Oleh karena itu, untuk mengurangi dampak yang berbahaya, gunakan tisu yang ramah lingkungan, terbuat dari bahan yang dapat didaur ulang, tanpa pewangi, dan kurangi tisu sekali pakai dengan menggunakan kain yang bisa dicuci ulang. Selain itu, gunakan tisu dengan bijak untuk mengurangi dampak negatifnya.
Sejarah Tisu, Manfaat Tisu dan Bahaya yang Harus Dihindari
Sumber : www.rri.co.id/lain-lain/1222699/tisu-sejarah-manfaat-dan-bahaya-yang-harus-dihindari



Leave a Reply